PENGERTIAN MULSA
Mulsa merupakan bahan yang dihamparkan di atas permukaan tanah agar pukulan air hujan langsung pada permukaan tanah tertahan dan berkurang.
Mulsa merupakan
suatu bahan yang mempunyai peran dalam mempertahankan kelembapan tanah,dan
juga berperan dalam menjaga suhu tanah tetap hangat dan mengurangi pertumbuhan
gulma.
Mulsa merupakan
bahan material yang sengaja dihamparkan
di permukaan tanah atau lahan pertanian.
Mulsa adalah bahan atau material digunakan untuk menutupi permukaan tanah atau lahan pertanian dengan tujuan tertentu yang mempunyai prinsipnya untuk meningkatkan produksi tanaman .
(Semeru,
1996).
Mulsa
adalah material penutup tanaman yang dimanfaatkan
untuk menjaga kelembaban tanah dan dapat menekan pertumbuhan gulma dan penyakit
sehingga membuat tanaman tersebut tumbuh dengan baik dan subur .
(Mubyarto,
1989).
Macam-Macam Mulsa
Secara
umum, terdapat dua jenis mulsa yaitu mulsa organik dan mulsa anorganik:
1.Mulsa
Organik
Berasal dari bahan-bahan alami yang mudah
terurai seperti sisa-sisa tanaman seperti jerami dan alang-alang. Mulsa organik
diberikan setelah tanaman /bibit ditanam. Keuntungan mulsa organik adalah dan
lebih ekonomis (murah), mudah didapatkan, dan dapat terurai sehingga menambah
kandungan bahan organik dalam tanah. Contoh: Jerami, serpihan kayu, potongan
rumput, kardus/koran (Acquaah, 2005).
Contoh:
a. Mulsa
Jerami
Dimanfaatkan
untuk semua jenis tanah dan tanaman.Karena sifatnya mudah lapuk cocok digunakan
untuk tanah yang dieksploitasi berat, sehingga kesuburan tanah dalam jangka
waktu tertentu dapat dikembalikan.
Mulsa
jerami sesuai digunakan untuk tanaman semusim atau non semusim yang tidak
terlalu tinggi dan memiliki struktur tajuk berdaun lebat dengan perakaran
dangkal (Setjanata, 1983).
b.
Mulsa Serpihan Kayu
Serpihan kayu yang diperoleh dari
pemotongan pohon besar yang digunakan sebagai pekerjaan sampingan yang
dijadikan sebagai mulsa. Pohon cabang dan batang besar agak kasar setelah
chipping dan cenderung digunakan sebagai mulsa setidaknya tiga inci tebal,
Serpihan kayu yang paling sering digunakan di bawah pohon dan semak belukar (Setjanata, 1983).
c.
Mulsa Potongan Rumput
Potongan
rumput, dari memotong rumput kadang-kadang dikumpulkan dan digunakan di tempat
lain sebagai mulsa. Potongan rumput yang padat dan cenderung tikar ke bawah,
sehingga dicampur dengan daun pohon atau kompos kasar untuk memberikan aerasi
dan untuk memfasilitasi dekomposisi mereka tanpa pembusukan bau.Potongan rumput
sering dikeringkan secara menyeluruh sebelum aplikasi, yang menengahi terhadap
dekomposisi yang cepat dan panas yang berlebihan (Setjanata, 1983).
d.
Mulsa Kardus dan Koran
Kardus
dan koran juga dapat digunakan sebagai mulsa, Dengan menggabungkan lapisan
karton / koran ke mulsa, jumlah pupuk yang lebih berat dapat dikurangi,
sementara meningkatkan sifat gulma mempertahankan penekan dan kelembaban dari
pupuk itu. Namun, tenaga kerja tambahan yang dikeluarkan saat penanaman melalui
mulsa yang berisi karton / lapisan koran, sebagai lubang harus dipotong untuk
setiap tanaman (Setjanata,
1983).
2.Mulsa
Anorganik
Terbuat dari bahan-bahan sintetis yang
sukar/tidak dapat terurai. Mulsa anorganik dipasang sebelum tanaman/bibit
ditanam, lalu dilubangi sesuai dengan jarak tanam. Mulsa anorganik ini harganya
relatif mahal, terutama mulsa plastik hitam perak yang banyak digunakan dalam
budidaya cabai atau melon. Fungsi mulsa plastik ini dapat memantulkan sinar
matahari secara tidak langsung untuk menghalau hama tungau, thrips dan apahid,
selain itu mulsa plastik digunakan dengan tujuan menaikkan suhu dan menurunkan
kelembapan di sekitar tanaman serta dapat menghambat munculnya penyakit yang
disebabkan oleh bakteri.
Bahan
plastik yang saat ini sering digunakan yang sering digunakan sebagai
bahan mulsa adalah plastik transparan, plastik hitam, plastic hitam perak, dan
plastik perak hitam.(Acquaah, 2005).
Contoh:
a. Mulsa
plastik
Mulsa plastik sesuai digunakan untuk
pembudidayaan tanaman yang struktur perakarannya dangkal dengan tajuk tanaman
tidak terlalu lebat, dan tinggi tanaman di atas 0,5 meter. Berdasarkan efeknya
terhadap suhu tanah maka mulsa plastik disesuaikan dengan kebutuhan tanaman
akan suhu. Mulsa plastik putih dan perak cocok digunakan untuk tanaman dataran
tinggi yang ingin dibudidayakan pada dataran medium sampai rendah. Mulsa
plastik transparan dan hitam cocok digunakan untuk tanaman dataran rendah yang
ingin dibudidayakan di dataran tinggi.
Tinggi tanaman dan kelebatan daun
menjadi syarat bagi penggunaan mulsa plastik. Karakteristik dari berbagai jenis
mulsa plastik adalah sebagai berikut.
-
Mulsa plastik putih (MPP)
Berdasarkan penelitian mulsa plastik
putih memantulkan cahaya sekitar 45-55% cahaya matahari.Tanah yang tidak diberi
mulsa hanya memantulkan cahaya sekitar 12% sedangkan 88% diteruskan atau
diserap.Hal ini menyebabkan MPP memberi efek menurunkan suhu tanah.Oleh karena
itu MPP cocok digunakan untuk tanaman dataran tinggi yang dibudidayakan di
dataran rendah sampai medium.Selain dapat menurunkan suhu tanah, MPP dapat
menambah jumlah cahaya matahari yang diterima tajuk tanaman karena cahaya yang dipantulkan
cukup besar (Setjanata, 1983).
-
Mulsa plastik transparan (MPT)
Dengan mulsa ini cahaya matahari
yang dipantulkan sangat sedikit. Cahaya yang diteruskan banyak, sehingga
efeknya menaikkan suhu tanah. Oleh karena itu MPT sangat cocok diterapkan pada
tanaman dataran rendah yang dibudidayakan di dataran tinggi. Namun tanaman
harus memiliki struktur tajuk yang tidak terlalu tinggi seperti pada bawang
merah (Setjanata, 1983).
-
Mulsa plastik hitam (MPH)
Cahaya matahari yang dipantulkan
sangat sedikit. Hampir semua cahaya matahari diserap oleh bahan mulsa, yaitu
90,5% dari jumlah cahaya matahari yang datang. Cahaya matahari yang diserap
akan dipantulkan dalam bentuk panas ke segala arah. MPH cocok diterapkan pada
tanaman dataran rendah yang struktur tajuknya tidak terlalu tinggi yang akan
dibudidayakan di dataran tinggi yang suhu tanahnya cenderung lebih rendah.
Contoh bawang merah, asparagus (Setjanata, 1983).
-
Mulsa plastik hitam perak (MPHP)
Permukaan perak dari MPPH akan
menyebabkan cahaya matahari yang dipantulkan cukup besar, bahkan lebih tinggi
dari MPP, sehingga cahaya matahari yang tersedia cukup besar untuk
fotosintesis. MPPH mulai diterapkan secara luas dan sangat cocok untuk
pembudidayaan semangka hibrida, melon, cabai hibrida, terung-terungan, kentang,
bawang putih, strawberry dataran rendah
(Setjanata, 1983).
Fungsi Mulsa
Menurut Arga (2010) fungsi mulsa terhadap tanaman yaitu, dengan adanya bahan mulsa di
atas permukaan tanah, benih gulma tidak dapat tumbuh dan berkembang sekitar tanaman yang dilapisi
mulsa. Sehingga tanaman yang ditanam akan
bebas tumbuh tanpa kompetisi/persaingan dengan gulma
dalam aktivitas penyerapan hara mineral tanah. Tidak adanya kompetisi dengan gulma
tersebut merupakan keuntungan, meningkatnya produksi tanaman budidaya.
Fungsi terhadap
agregat tanah yaitu dengan adanya bahan mulsa di atas permukaan tanah, energi
hujan akan di tanggung oleh bahan mulsa tersebut sehingga agregat tanah tetap
stabil dan terhindar dari proses penghancuran. Semua jenis mulsa dapat di
gunakan untuk tujuan mengendalikan erosi. Fungsi langsung mulsa terhadap sifat
kimia tanah terjadi melalui pelapukan bahan-bahan mulsa. Fungsi ini terjadi
pada jenis mulsa yang mudah lapuk seperti jerami, padi, alang-alang,
rumput-rumputan, dan sisa-sisa tanaman lainnya. Hal ini merupakan salah satu
keuntungan penggunaan mulsa sisa-sisa tanaman di banding mulsa plastik
Fungsi mulsa
terhadap ketersediaan air tanah, seperti halnya teknologi pemulsaan dapat
mencegah evaporasi. Dalam hal ini air yang menguap dari permukaan tanah akan
ditahan oleh bahan mulsa dan jatuh kembali ke tanah. Akibatnya lahan yang
ditanam tidak kekurangan air karena penguapan air ke udara hanya terjadi melaui
proses transpirasi. Melalui proses trasnpirasi inilah tanaman dapat menarik air
dari dalam tanah yang di dalamnya telah terlarut berbagai hara yang di butuhkan
tanaman.
Menurut
1.Mengurangi tumbuhnya rumput atau
gulma yang mengganggu pertumbuhan tanaman.
2.Mengurangi tergerusnya
butiran-butiran tanah dan pupuk karena terbawa aliran air hujan.
3.Mengurangi penguapan air pada siang
hari.
4.Menjaga stabilitas tanah.
5.Menutupi media dari seragan
hama/penyakit.
Pengaruh Pemulsaan Terhadap Iklim Mikro dan Keberadaan Gulma
Pemulsaan adalah salah satu teknik budidaya dengan menggunakan modifikasi
iklim mikro yang mempunyai tujuan mencegah kehilangan air dari tanah sehingga
kehilangan air berkurang dengan memelihara temperatur dan kelembapan tanah serta menciptakan
kondisi yang sesuai bagi tanaman, sehingga tanaman dapat tumbuh dan berkembang
dengan baik
Acquaah,
G. 2005. Horticulture: Principles and
Practices. New York: Marcel Dekker, Inc.
Arga, A. (2010). Mulsa. Yogyakarta: Kanisius.
Moenandir, J. (2010). Ilmu Gulma. Malang: Universitas
Brawijaya Press.
Mubyarto. 1989. Pengantar Ekonomi Pertanian Lembaga Penelitian, Pendidikan dan
Penerangan Ekonomi dan Sosial. Jakarta: LP3ES.
Mulyatri. (2003). Peranan Pengolahan Tanah dan Bahan Organik
Terhadap Konservasi Tanah dan Air. Prosseding Seminar Nasional. Hasil-hasil
Penelitian dan Pengkajian Teknologi Spesifik Lokasi. Jurnal Ilmu Pertanian,
13(1):65 – 76.
Prawoto, A. (2006). Panduan Lengkap Kakao. Jakarta:
Penebar Swadaya.
Semeru.
1995. Hortikultura dan Aspek Budaya.
Jakarta: UI Press
Setjanata, S. 1983. Perkembangan Penerapan Pola Tanam dan Pola
Usahatani dalam Usaha Intensifikasi (Proyek Bimas). Lokakarya Teknologi dan
Dampak Penelitian Pola Tanam dan Usahatani, Bogor, 20-21 Juni 1983. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Tanam
Setyaningrum, H. D., & Saparinto, C. (2013). Budidaya
Tanaman Jahe. Penebar Swadaya: Jakarta.
Umboh, A. H. (2002). Petunjuk Penggunaan Mulsa.
Jakarta: Penebar Swadaya.
Warisno, & Dahana, K. (2010). Peluang Usaha dan
Budidaya Cabai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
No comments:
Post a Comment