Saturday, March 13, 2021

MULSA DALAM PERTANIAN

PENGERTIAN MULSA

 Mulsa merupakan bahan yang dihamparkan di atas permukaan tanah agar pukulan air hujan langsung pada permukaan tanah  tertahan dan berkurang.

 (Prawoto, 2006)

Mulsa merupakan suatu bahan yang mempunyai peran dalam mempertahankan kelembapan tanah,dan juga berperan dalam menjaga suhu tanah tetap hangat dan mengurangi pertumbuhan gulma.

(Warisno & Dahana, 2010)

 Mulsa merupakan bahan material yang sengaja dihamparkan  di permukaan tanah atau lahan pertanian.

(Umboh, 2002)

Mulsa adalah bahan atau material digunakan untuk menutupi permukaan tanah atau lahan pertanian dengan tujuan tertentu yang  mempunyai prinsipnya untuk meningkatkan produksi tanaman .

(Semeru, 1996).

Mulsa adalah material penutup tanaman yang dimanfaatkan untuk menjaga kelembaban tanah dan dapat  menekan pertumbuhan gulma dan penyakit sehingga membuat tanaman tersebut tumbuh dengan baik dan subur .

(Mubyarto, 1989).

 

Macam-Macam Mulsa

Secara umum, terdapat dua jenis mulsa yaitu mulsa organik dan mulsa anorganik:

1.Mulsa Organik

Berasal dari bahan-bahan alami yang mudah terurai seperti sisa-sisa tanaman seperti jerami dan alang-alang. Mulsa organik diberikan setelah tanaman /bibit ditanam. Keuntungan mulsa organik adalah dan lebih ekonomis (murah), mudah didapatkan, dan dapat terurai sehingga menambah kandungan bahan organik dalam tanah. Contoh: Jerami, serpihan kayu, potongan rumput, kardus/koran (Acquaah, 2005).

Contoh:

a.       Mulsa Jerami

Dimanfaatkan untuk semua jenis tanah dan tanaman.Karena sifatnya mudah lapuk cocok digunakan untuk tanah yang dieksploitasi berat, sehingga kesuburan tanah dalam jangka waktu tertentu dapat dikembalikan.

Mulsa jerami sesuai digunakan untuk tanaman semusim atau non semusim yang tidak terlalu tinggi dan memiliki struktur tajuk berdaun lebat dengan perakaran dangkal (Setjanata, 1983).




b.      Mulsa Serpihan Kayu

Serpihan kayu yang diperoleh dari pemotongan pohon besar yang digunakan sebagai pekerjaan sampingan yang dijadikan sebagai mulsa. Pohon cabang dan batang besar agak kasar setelah chipping dan cenderung digunakan sebagai mulsa setidaknya tiga inci tebal, Serpihan kayu yang paling sering digunakan di bawah pohon dan semak belukar (Setjanata, 1983).




c.       Mulsa Potongan Rumput

Potongan rumput, dari memotong rumput kadang-kadang dikumpulkan dan digunakan di tempat lain sebagai mulsa. Potongan rumput yang padat dan cenderung tikar ke bawah, sehingga dicampur dengan daun pohon atau kompos kasar untuk memberikan aerasi dan untuk memfasilitasi dekomposisi mereka tanpa pembusukan bau.Potongan rumput sering dikeringkan secara menyeluruh sebelum aplikasi, yang menengahi terhadap dekomposisi yang cepat dan panas yang berlebihan (Setjanata, 1983).




d.      Mulsa Kardus dan Koran

Kardus dan koran juga dapat digunakan sebagai mulsa, Dengan menggabungkan lapisan karton / koran ke mulsa, jumlah pupuk yang lebih berat dapat dikurangi, sementara meningkatkan sifat gulma mempertahankan penekan dan kelembaban dari pupuk itu. Namun, tenaga kerja tambahan yang dikeluarkan saat penanaman melalui mulsa yang berisi karton / lapisan koran, sebagai lubang harus dipotong untuk setiap tanaman (Setjanata, 1983).

 



2.Mulsa Anorganik

Terbuat dari bahan-bahan sintetis yang sukar/tidak dapat terurai. Mulsa anorganik dipasang sebelum tanaman/bibit ditanam, lalu dilubangi sesuai dengan jarak tanam. Mulsa anorganik ini harganya relatif mahal, terutama mulsa plastik hitam perak yang banyak digunakan dalam budidaya cabai atau melon. Fungsi mulsa plastik ini dapat memantulkan sinar matahari secara tidak langsung untuk menghalau hama tungau, thrips dan apahid, selain itu mulsa plastik digunakan dengan tujuan menaikkan suhu dan menurunkan kelembapan di sekitar tanaman serta dapat menghambat munculnya penyakit yang disebabkan oleh bakteri.

Bahan  plastik yang saat ini sering digunakan yang sering digunakan sebagai bahan mulsa adalah plastik transparan, plastik hitam, plastic hitam perak, dan plastik  perak hitam.(Acquaah, 2005).

Contoh:

a.       Mulsa plastik

Mulsa plastik sesuai digunakan untuk pembudidayaan tanaman yang struktur perakarannya dangkal dengan tajuk tanaman tidak terlalu lebat, dan tinggi tanaman di atas 0,5 meter. Berdasarkan efeknya terhadap suhu tanah maka mulsa plastik disesuaikan dengan kebutuhan tanaman akan suhu. Mulsa plastik putih dan perak cocok digunakan untuk tanaman dataran tinggi yang ingin dibudidayakan pada dataran medium sampai rendah. Mulsa plastik transparan dan hitam cocok digunakan untuk tanaman dataran rendah yang ingin dibudidayakan di dataran tinggi.

Tinggi tanaman dan kelebatan daun menjadi syarat bagi penggunaan mulsa plastik. Karakteristik dari berbagai jenis mulsa plastik adalah sebagai berikut.

-         Mulsa plastik putih (MPP)

Berdasarkan penelitian mulsa plastik putih memantulkan cahaya sekitar 45-55% cahaya matahari.Tanah yang tidak diberi mulsa hanya memantulkan cahaya sekitar 12% sedangkan 88% diteruskan atau diserap.Hal ini menyebabkan MPP memberi efek menurunkan suhu tanah.Oleh karena itu MPP cocok digunakan untuk tanaman dataran tinggi yang dibudidayakan di dataran rendah sampai medium.Selain dapat menurunkan suhu tanah, MPP dapat menambah jumlah cahaya matahari yang diterima tajuk tanaman karena cahaya yang dipantulkan cukup besar (Setjanata, 1983).




-         Mulsa plastik transparan (MPT)

Dengan mulsa ini cahaya matahari yang dipantulkan sangat sedikit. Cahaya yang diteruskan banyak, sehingga efeknya menaikkan suhu tanah. Oleh karena itu MPT sangat cocok diterapkan pada tanaman dataran rendah yang dibudidayakan di dataran tinggi. Namun tanaman harus memiliki struktur tajuk yang tidak terlalu tinggi seperti pada bawang merah (Setjanata, 1983).





-         Mulsa plastik hitam (MPH)

Cahaya matahari yang dipantulkan sangat sedikit. Hampir semua cahaya matahari diserap oleh bahan mulsa, yaitu 90,5% dari jumlah cahaya matahari yang datang. Cahaya matahari yang diserap akan dipantulkan dalam bentuk panas ke segala arah. MPH cocok diterapkan pada tanaman dataran rendah yang struktur tajuknya tidak terlalu tinggi yang akan dibudidayakan di dataran tinggi yang suhu tanahnya cenderung lebih rendah. Contoh bawang merah, asparagus (Setjanata, 1983).




-         Mulsa plastik hitam perak (MPHP)

Permukaan perak dari MPPH akan menyebabkan cahaya matahari yang dipantulkan cukup besar, bahkan lebih tinggi dari MPP, sehingga cahaya matahari yang tersedia cukup besar untuk fotosintesis. MPPH mulai diterapkan secara luas dan sangat cocok untuk pembudidayaan semangka hibrida, melon, cabai hibrida, terung-terungan, kentang, bawang putih, strawberry dataran rendah  (Setjanata, 1983).




   Fungsi Mulsa

            Menurut Arga (2010) fungsi mulsa terhadap tanaman yaitu, dengan adanya bahan mulsa di atas permukaan tanah, benih gulma tidak dapat tumbuh dan berkembang sekitar tanaman yang dilapisi mulsa. Sehingga tanaman yang ditanam akan bebas tumbuh tanpa kompetisi/persaingan dengan gulma dalam aktivitas penyerapan hara mineral tanah. Tidak adanya kompetisi dengan gulma tersebut merupakan keuntungan, meningkatnya produksi tanaman budidaya.

            Fungsi terhadap agregat tanah yaitu dengan adanya bahan mulsa di atas permukaan tanah, energi hujan akan di tanggung oleh bahan mulsa tersebut sehingga agregat tanah tetap stabil dan terhindar dari proses penghancuran. Semua jenis mulsa dapat di gunakan untuk tujuan mengendalikan erosi. Fungsi langsung mulsa terhadap sifat kimia tanah terjadi melalui pelapukan bahan-bahan mulsa. Fungsi ini terjadi pada jenis mulsa yang mudah lapuk seperti jerami, padi, alang-alang, rumput-rumputan, dan sisa-sisa tanaman lainnya. Hal ini merupakan salah satu keuntungan penggunaan mulsa sisa-sisa tanaman di banding mulsa plastik (Arga, 2010).

            Fungsi mulsa terhadap ketersediaan air tanah, seperti halnya teknologi pemulsaan dapat mencegah evaporasi. Dalam hal ini air yang menguap dari permukaan tanah akan ditahan oleh bahan mulsa dan jatuh kembali ke tanah. Akibatnya lahan yang ditanam tidak kekurangan air karena penguapan air ke udara hanya terjadi melaui proses transpirasi. Melalui proses trasnpirasi inilah tanaman dapat menarik air dari dalam tanah yang di dalamnya telah terlarut berbagai hara yang di butuhkan tanaman.

            Menurut (Setyaningrum & Saparinto, 2013) secara umum, mulsa memiliki beberapa fungsi yang sangat penting bagi tanaman. Beberapa fungsi mulsa antara lain sebagai berikut:

1.Mengurangi tumbuhnya rumput atau gulma yang mengganggu pertumbuhan tanaman.

2.Mengurangi tergerusnya butiran-butiran tanah dan pupuk karena terbawa aliran air hujan.

3.Mengurangi penguapan air pada siang hari.

4.Menjaga stabilitas tanah.

5.Menutupi media dari seragan hama/penyakit.

 Pengaruh Pemulsaan Terhadap Iklim Mikro dan Keberadaan Gulma

Pemulsaan adalah salah satu teknik budidaya dengan menggunakan modifikasi iklim mikro yang mempunyai tujuan mencegah kehilangan air dari tanah sehingga kehilangan air berkurang dengan memelihara temperatur dan kelembapan tanah serta menciptakan kondisi yang sesuai bagi tanaman, sehingga tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik (Mulyatri, 2003). Hal ini dibuktikan dengan hasil pengamatan pada lahan yang diberi mulsa memiliki suhu tanah rendah dan kelembaban tanah yang meningkat. Suhu dan kelembaban mempunyai hubungan yang sangat erat, artinya ketika suhu tanah tinggi, maka kelembaban tanah yang dihasilkan rendah.

Apabila suhu yang dihasilkan cukup tinggi,dan tingkat ketersediaan air tanah rendah, maka  mempunyai dampak pada rendahnya fotosintat yang dihasilkan sehingga tidak cukupnya tingkat ketersediaan air untuk kegiatan fotosintesis, khususnya energi untuk mulsa dan tanpa disiang juga diakibatkan adanya persaingan antara tanaman dengan gulma. Hal ini menunjukkan bahwa gulma yang tumbuh berdekatan dengan tanaman budidaya akan saling mengadakan persaingan/kompetisi. Apabila pada saat fase vegetatif tanaman tumbuh bersama dengan gulma, maka akan terjadi suatu interaksi yang negatif dalam memperebutkan air, cahaya dan unsur hara,sehingga pertumbuhan tanaman terhambat oleh gulma (Moenadir,2010)

REFERENSI :

Acquaah, G. 2005. Horticulture: Principles and Practices. New York: Marcel Dekker, Inc.

Arga, A. (2010). Mulsa. Yogyakarta: Kanisius.

Moenandir, J. (2010). Ilmu Gulma. Malang: Universitas Brawijaya Press.

Mubyarto. 1989. Pengantar Ekonomi Pertanian Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial. Jakarta: LP3ES.

Mulyatri. (2003). Peranan Pengolahan Tanah dan Bahan Organik Terhadap Konservasi Tanah dan Air. Prosseding Seminar Nasional. Hasil-hasil Penelitian dan Pengkajian Teknologi Spesifik Lokasi. Jurnal Ilmu Pertanian, 13(1):65 – 76.

Prawoto, A. (2006). Panduan Lengkap Kakao. Jakarta: Penebar Swadaya.

Semeru. 1995. Hortikultura dan Aspek Budaya. Jakarta: UI Press

Setjanata, S. 1983. Perkembangan Penerapan Pola Tanam dan Pola Usahatani dalam Usaha Intensifikasi (Proyek Bimas). Lokakarya Teknologi dan Dampak Penelitian Pola Tanam dan Usahatani, Bogor, 20-21 Juni 1983. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanam

Setyaningrum, H. D., & Saparinto, C. (2013). Budidaya Tanaman Jahe. Penebar Swadaya: Jakarta.

Umboh, A. H. (2002). Petunjuk Penggunaan Mulsa. Jakarta: Penebar Swadaya.

Warisno, & Dahana, K. (2010). Peluang Usaha dan Budidaya Cabai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

No comments:

Post a Comment